Jumat, 21 April 2017

Kalimat Efektif

Kalimat Efektif


1.      Pengeetian Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat. Dengan kata lain, kalimat efektif  adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Kalimat efektif harus sesuai dengan kaidah bahasa (memiliki unsur subjek dan predikat), singkat (tidak berbelit-belit), enak dibaca, dan sopan.

Suatu kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat efektif jika memiliki beberapa syarat sebagai berikut:

a.        Mudah dipahami oleh pendengar atau pembacanya.
b.       Tidak menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan maksud sang penulis. 
c.       Menyampaikan pemikiran penulis kepada pembaca atau pendengarnya dengan tepat. 


2.      Ciri-ciri Kalimat Efektif  

         Kalimat efektif memiliki prinsip-prinsip yang harus dipenuhi yaitu kesepadanan, kepararelan, kehematan kata, kecermatan, ketegasan, kepaduan dan kelogisan kalimat. prinsip -prinsip kalimat efektif tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

1.      Kesepadanan

Kespadanan adalah keseimbangan antara gagasan atau pemikiran dengan struktur bahasa yang dipakai dalam kalimat. Ciri-ciri kalimat yang memiliki kesepadanan struktur, yaitu:

a.       Kalimat tersebut memiliki subjek dan predikat dengan jelas. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan penggunaan kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.

Contoh: 
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (tidak efektif).

Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (
efektif).

b.      Tidak terdapat subjek ganda.
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas (
tidak efektif).
Soal itu bagi saya kurang jelas (
efektif).

c.       Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.

Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga tidak dapat mengikuti acara pertama (
tidak efektif).

Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama (
efektif).

2.      Keparalelan

Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, jika bentuk pertama menggunakan nomina, maka bentuk kedua dan selanjutnya juga menggunakan nomina. Begitu pun dengan verba.

Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes (
tidak efektif).

Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes (
efektif).

3.      Ketegasan

Ketegasan atau penekanan adalah suatu perlakukan menonjol pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat, yaitu:

a.       Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat.
Contoh:
Harapan Presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya: harapan Presiden.

b.      Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (
tidak efektif).

Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar (
efektif).

c.       Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.

d.      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan mujur.

e.       Menggunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang harus bertanggung jawab.

4.      Kehematan

Kehematan adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Ada beberapa kriteria penghematan, yaitu:

a.    Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.

Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (tidak hemat).
Karena tidak diundang, ia tidak datang ke tempat itu (hemat).

b.    Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.

Contoh:
Ia memakai baju warna merah (tidak hemat).
Ia memakai baju merah (hemat).

c.    Penghematan kata dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.

Contoh:
Sejak dari pagi dia bermenung (tidak hemat).
Sejak pagi dia bermenung (hemat).

d.   Penghematan dapat dilakukan dengan cara menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.

Contoh:
Para tamu-tamu datang dari Jakarta kemarin (tidak hemat).
Para tamu datang dari Jakarta kemarin (hemat)

5.      Kecermatan

Kecermatan adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsir ganda, dan tepat dalam pilihan kata.

Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah (
tidak efektif).

Mahasiswa perguruan tinggi terkenal itu menerima hadiah (
efektif).

6.      Kepaduan

Yang dimaksud kepaduan di sini ialah kepaduan pernyataan dalam suatu kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.

a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Karena itu, hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.

b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.

Contoh:
Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (tidak padu).
Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (padu).

Syarat Kalimat Efektif

1.      Sesuai EYD

Sebuah kalimat efektif haruslah menggunakan ejaan maupun tanda baca yang tepat. Kata baku pun mesti menjadi perhatian agar tidak sampai kata yang kita tulis ternyata tidak tepat ejaannya.

2.      Sistematis

Sebuah kalimat paling sederhana adalah yang memiliki susunan subjek dan predikat, kemudian ditambahkan dengan objek, pelengkap, hingga keterangan. Sebisa mungkin guna mengefektifkan kalimat, buatlah kalimat yang urutannya tidak memusingkan. Jika memang tidak ada penegasan, subjek dan predikat diharapkan selalu berada di awal kalimat.

3.      Tidak Boros dan Bertele-tele

Jangan sampai kalimat yang kalian buat terlalu banyak menghambur-hamburkan kata dan terkesan bertele-tele. Pastikan susunan kalimat yang kalian rumuskan pasti dan ringkas agar orang yang membacanya mudah menangkah gagasan yang kita tuangkan.

4.      Tidak Ambigu

Syarat kalimat efektif yang terakhir, kalimat efektif menjadi sangat penting untuk menghindari pembaca dari multiftafsir. Dengan susunan kata yang ringkas, sistemastis, dan sesuai kaidah kebahasaan; pembaca tidak akan kesulitan mengartikan ide dari kalimat kalian sehingga tidak ada kesan ambigu.





Selasa, 11 April 2017

DIKSI

DIKSI

diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, pengertian diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti apa yang diharapkan).

Dalam KBBI (2002: 264) diksi diartikan sebagai pilihan kata yanng tepat dan selaras dalam penggunaanya untuk menggungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan. Jadi, diksi berhubungan dengan pengertian teknis dalam hal karang-mengarang, hal tulis-menulis, serta tutur sapa.

Fungsi Diksi
Diksi dalam pembuatan karya sastra memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
  • Membuat orang yang membaca atau pun mendengar karya sastra menjadi lebih faham mengenai apa yang ingin disampaikan oleh pengarang.
  • Membuat komunikasi menjadi lebih efektif.
  • Melambangkan ekspresi yang ada dalam gagasan secara verbal (tertulis atau pun terucap).
  • Membentuk ekspresi atau pun gagasan yang tepat sehingga dapat menyenangkan pendengar atau pun pembacanya.

Persyaratan Diksi

Ada dua persyaratan yang harus dipenuhi dalam memilih kata-kata, yaitu persyaratan ketetapan dan kesesuaian. Tepat, artinya kata-kata yang dipilih itu dapat mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin diungkapkan.

ketetapan dan kesesuaian dalam pemilihan kata, perlu diperhatikan :
a.       Kaidah kelompok kata/ frase
b.       Kaidah makna kata
c.       Kaidah lingkungan social
d.       Kaidah karang-mengarang

Hal ini di jelaskan satu persatu, sebagai berikut :
A.    Pilihan kata sesuai dengan kaidah kelompok kata /frase

Pilihan kata/ diksi yang sesuai dengan kaidah kelompok kata/frase, seharusnya pilihan kata/diksi yang tepat,seksama, lazim,dan benar.

Ø Tepat
Contohnya :
Makna kata lihat dengan kata pandang biasanya bersinonim, tetapi kelompok kata pandangan mata tidak dapat digantikan  dengan lihatan mata.

Ø Seksama
Contohnya :
Kata besar, agung, akbar, raya, dan tinggi termasuk kata-kata yang bersinonim. Kita biasanya mengatakan hari raya serta hari besar, tetapi kita tidak pernah mengatakan hari agunghari akbar ataupun hari tinggi.

Ø Lazim
Lazim adalah kata itu sudah menjadi milik bahasa Indonesia. Kata yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia apabila dipergunakan sangatlah akan membingungkan pengertian saja.

Contohnya :
Kata makan dan santap bersinonim. Akan tetapi tidak dapat mengatakan Anjing bersantap sebagai sinonim anjing makan.  Kemudian kata santapan rohani tidak dapat pula digantikan dengan makanan rohani.  Kedua kata ini mungkin tepat pengelompokannya, tetapi tidak seksama serta tidak lazim dari sudut makna dan pemakain-nya.

B. Pilihan kata sesuai dengan kaidah makna kata.

Jenis makna

Ø Berdasarkan bentuk maknanya, makna dibedakan atas dua macam yaitu:
1.      Makna Leksikal adalah makna kamus atau makna yang terdapat di dalam kamus. Makna ini dimiliki oleh kata dasar. Contoh : makan, tidur, ibu, adik, buku

2.      Makna Gramatikal adalah makna yang dimiliki kata setelah mengalami proses gramatikal, seperti proses afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan), dan komposisi (pemajemukan).

Contoh :
-           Proses afiksasi awalan me- pada kata dasar kotor ; Adik mengotori lantai itu.
-         Proses reduplikasi pada kata kacang Kacang-kacangan merupakan salah satu sumber protein nabati.
-           Proses komposisi pada kata rumah sakit bersalin ; Ia bekerja di rumah sakit bersalin

Ø Berdasarkan sifatnya, makna dibedakan atas dua macam:

1.      Makna Denotasi adalah makna kata yang sesuai dengan hasil observasi panca indra dan tidak menimbulkan penafsiran lain. Makna denotasi disebut juga sebagai makna sebenarnya.

Contoh :   
-           Kepala : organ tubuh yang letaknya paling atas 
-           Besi : logam yang sangat keras

2.      Makna konotasi adalah makna kata yang tidak sesuai dengan hasil observasi pancaindra dan menimbulkan penafsiran lain. Makna konotasi disebut juga sebagai makna kias atau makna kontekstual.

Contoh :   
-           Ibu kota : pusat pemerintahan
-           Ibu jari : jari yang paling besar atau jempol
-           Jamban : kamar kecil

Ø Berdasarkan wujudnya, makna dibedakan atas :

1.      Makna referensial adalah makna kata yang mempunyai rujukan yang konkret.

Contoh :
-           meja, baju, membaca, menulis

2.      Makna inferensial adalah makna kata yang tidak mempunyai rujukan yang konkret.

Contoh :
-            baik, indah, sedih, gembira

Perubahan Makna

Ø Berdasarkan cakupan maknanya, perubahan makna dibedakan atas.

1.      Meluas, cakupan makna sekarang lebih luas daripada sebelumnya.
Misalnya:

Kata
Dulu
sekarang
Berlayar
Mengarungi laut dengan memakai kapal layar
Mengarungi lautan dengan alat apa saja
Putera-puteri
Dipakai untuk sebutan anak-anak raja
Sebutan untuk semua anak laki-laki dan perempuan

2.        Menyempit, cakupan makna sekarang lebih sempit dari pada makna dahulu

Kata
Dulu
sekarang
Sekarang
Sebutan untuk semua orang cendikiawan
Gelar untuk orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi
Madrasah
Sekolah
Sekolah yang mempelajari ilmu agama Islam

Ø Berdasarkan nilai rasanya, perubahan makna dibedakan atas :

1.      Ameliorasi adalah perubahan makna ke tingkat yang lebih tinggi. Artinya baru dirasakan lebih baik dari arti sebelumnya. 

Contoh:
-             Kata wanita dirasakan lebih baik nilainya daripada perempuan
-           Kata istri atau nyonya dirasakan lebih baik daripada kata bini.

2.      Peyorasi adalah perubahan makna ke tingkat yang lebih rendah. Arti baru dirasakan lebih rendh nilainya dari arti sebelumnya.

Contoh:
-            Kata perempuan sekarang dirasakan lebih rendah artinya
-           Kata bini sekarang dirasakan kasar
-            
Pergeseran Makna

Pergeseran makna dibedakan atas 2 macam:
1.      Asosiasi adalah pergeseran makna yang terjadi karena adanya persamaan sifat.

Contoh:
-           Tasya menyikat giginya sampai bersih
-           Pencuri itu menyikat habis barang-barang berhatga dirumah itu

2.       Sinestesia adalah perubahan makna akibat adanya pertukaran tanggapan antara dua indra yang berbeda.

Contoh:
-           Sayur itu rasanya pedas sekali
-           Kata-katanya sangat pedas didengar.
-            
Relasi Makna

1.      Homonim adalah dua buah kata yang mempunyai persamaan tulisan dan pengucapan.

Contoh :
-             Bisa berarti ;
-           Dapat, sanggup
-             Racun
-           Buku berarti ;
-           Kitab
-           antara ruas dengan ruas
-            
2.      Homograf adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai persamaan tulisan tetapi berlainan pengucapan dan arti.

Contoh:
-           Teras(inti) dengan teras(halaman rumah)
-           Sedan(isak) dengan sedan(sejenis mobil)
-           Tahu(paham) dengan tahu(sejenis makanan)

3.       Homofon adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai persamaan pengucapan tetapi berlainan tulisan dan arti

Contoh:
-           Bang dengan bank
-           Masa dengan massa
-            
4.      Sinonim adalah dua buah kata yang berbeda tulisan dan pengucapanya tetapi mempunyai arti yang sama.

Contoh:
-           Pintar dengan pandai
-           Bunga dengan kembang

Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Oleh sebab itu, di dalam sebuah karang mengarang sebaiknya dipergunakan sinomin kata supaya ada variasinya dan ada pergantiannya yang membuat lukisan di dalam karangan itu menjadi hidup. Sinonim dapat terjadi disebabkan oleh hal-hal berikut ini :

·      Pengaruh bahasa daerah

Contoh :
Kata harimau yang diberi sinonim dengan macan .
 Kata auditorium bersinonim dengan kata pendopo.
Kata rindu bersinonim dengan kata kangen

·      Perbedaan dialek regional

Contoh : 
     - Handuk bersinonim  tuala ,
-  selop bersinonim seliper 

·      Pengaruh bahasa asing

Contoh :
- kolosal bersinonim besar,
- aula bersinonim ruangan,
-  realita bersinonim kenyataan .

·      Perbedaan dialek social

Contohnya :
-  suami bersinonim laki,
-  istri bersinonim bini,
- mati bersinonim wafat.

·      Perbedaan ragam bahasa

Contohnya :
- membuat bersinonim menggubah,
- assisten bersinonim pembantu,
- tengah bersinonim madya.

·      Perbedaan dialek temporal

Contohnya :
- hulubalang bersinonim komandan,
- kempa bersinonim stempel,
- peri bersinonim hantu .

5.    Antonim adalah kata-kata yang berlawanan artinya.

Contoh:
- Tua- muda
- Besar – kecil
- Luas – sempit

6.  Polisemi berasal adalah kata poly dan sema, yang masing-masing berarti’banyak’ dan ‘tanda’. Jadi polisemi berarti suatu kata yang memiliki banyak makna.

Contoh:
-        Kata kepala yang mempunyai arti bahagian atas tubuh manusia tetapi dapat juga berarti orang yang menjadi pimpinan pada sebuah kantor dan sebagainya.

-        Kata kaki  yang dipergunakan untuk menahan tubuh manusia  tetapi dapat juga kaki meja yang menahan meja.

Macam – macam Diksi

1.      Sinonim

Sinonim merupakan pilihan kata yang memiliki persamaan makna. Penggunaan kata sinonim biasanya dimaksudkan untuk membuat apa yang dikatakan / dituliskan menjadi lebih sesuai dengan ekspresi yang ingin diungkapkan.

Contohnya :
mati (ekspresi pengungkapan yang kasar) dan wafat (ekspresi pengungkapan yang lebih halus)

  1. Antonim
Antonim merupakan pilihan kata yang memiliki makna berlawanan atau pun berbeda. Contoh kata antonim adalah besar dan kecil


  1. Polisemi
Poisemi merupakan frasa kata yang memiliki banyak makna. Contohnya kata kepala yang dapat bermakna bagian tubuh yang terletak di atas leher, atau dapat juga bermakna bagian yang terletak di sebelah atas atau pun depan


  1. Homograf
Homograf merupakan kata – kata yang memiliki tulisan sama akan tetapi memiliki arti dan bunyi yang berbeda


  1. Homofon
Homofon merupakan kata – kata yang memiliki bunyi yang sama akan tetapi makna dan ejaannya berbeda.


  1. Homonim
Homonim merupakan kata – kata yang memiliki ejaan yang sama namun makna dan bnyinya berbeda. Contoh Asep (nama orang) dan asep (asap).


  1. Hiponim
Hiponim merupakan kata yang maknanya telah tercakup di dalam kata lainnya. Contohnya kata Salmon yang telah termasuk ke dalam makna kata ikan


  1. Hipernim
Hipernim merupakan kata yang telah mencakup makna kata lain. Contohnya ada pada kata sempurna yang telah mencakup kata baik, bagus, dan beberapa kata lainnya.